Category Archives: Personal

The Art of Beauty

I felt pretty. I looked pretty. What a picture.
Sangat susah mendapatkan foto untuk terlihat “pretty” kecuali kamu emang drop dead georgeous mah gampang. Foto-foto yang di post terkadang berakhir dengan foto yg terlihat cute, sweet, good, ok, cool. Sangat jarang ada foto di mana terlihat pretty.

Definisi cantik sendiri menurut setiap orang berbeda. Menurutku merasa confident terhadap diri sendiri akan membuatmu terlihat cantik. Bad light pun tidak akan menghalangi penampilanmu untuk terlihat pretty kalau km emang felt pretty that time (sekarang foto bisa di atur pencahayaan nya :p)

Jadi pertama-tama merasa confident dulu. Buat dirimu jadi confident and then you can felt pretty or looked pretty. Itu sih kalau menurutku

Advertisements

The Things you can’t control

Disalah pahami dan tidak didengarkan adalah hal yg paling tidak menyenangkan terjadi pada seseorang. Yet you can`t control it .

Ketika seseorang menanyakan kabarmu dan berakhir dengan si penanya kabar lebih mempercayai orang lain dan asumsinya mengenai kabarmu itu menyebalkan, untukku sendiri it totally pissed me off. Ngapain nanya kalau tetap nggak didengerin.

Yet walaupun kamu sudah mencoba menjelaskan dengan detail what happened to you, disalahpahami tetap akan menjadi option yg akan terjadi.

Untukku, tidak melakukan apapun adalah jalan keluar yang terbaik. Sometimes bercermin adalah terapi yg kadang ku lakukan. Penting nggak sih opini orang tentang dirimu? Nope. Just it

17 Desember 2016

I am celebrate this years alone, saya memang merencanakan tahun ini untuk merayakannya sendiri. Treat my self better.

  1. Nonton Star wars (Early b.day celebration)
  2. Saya ke salon dan melakukan perawatan,  (saya orang yang mungkin ke salon hanya untuk potong rambut) *.*
  3. Trying a new recipe yang saya sudah inginkan sejak lama.

There is no cake, a candle ext.
Entah mengapa saya tidak menginginkan itu tahun ini, tak ada wish yang saya inginkan tahun ini. Saya tidak berharap apa pun tahun ini.

Saya merasa sudah menjadi 23 tahun sepanjang tahun ini jadi tidak ada sesuatu yang saya harapkan berbeda dari hari-hari biasanya.

Saya cukup kaget dengan situasi ini. But it’s not a bad feeling.
Hanya experience baru saja.

Don’t Forget to be Happy

Salah satu doa yang diberikan kepada saya tahun ini “Jangan lupa untuk bahagia” Jujur saja saya cukup terkejut dengan doa itu, simple tapi cukup complex untukku hingga membuatku berpikir lama.

Am i happy this year? saya sudah berhasil mengabulkan keinginan saya tahun lalu, mandiri secara finansial. Tapi kebahagiaan yang saya angan-angankan tidak seperti ini, berbeda. Jauh berbeda.

Define Happy? saya memberikan pertanyaan itu kepada diri saya sendiri. Yang terlintas di pikiran saya, saya tidak merasa terpuruk. I am OK. Tapi still something missing. Walau setiap hari berlalu sesuai yang saya ingikan, saya melakukan apa yang saya inginkan, i am not enjoying it.

Sepertinya usaha saya kurang cukup untuk membuat diri saya bahagia.

Saya belajar sesuatu yang baru lagi tahun ini.

Berusaha lebih keras untuk jadi lebih bahagia. Enjoy the moment. This moment.
I am too stiff this year. T.T

 

 

Promise is a Promise

Di pagi hari ketika saya terbangun, suara telfon berbunyi. The ID calling dilayar handphoneku tertulis Mother. Dia mengucapkan salam dan memberikan doa untukku di tahun ini.

Obrolan kami menyenangkan, funny yet meaningful until she said “kamu janji cuman setahun kan di Surabaya” Saya terdiam mendengar pernyataannya yang terdengar seperti pertanyaan yang meminta validating.

Ketika diawal tahun saya menerima pekerjaan ini, saya tidak pernah menduga My Mom orang yang bakalan menyuruhku untuk pulang ke rumah, mencari kerja di hometown. Tentu saja sebelum saya menerima pekerjaan ini saya berdiskusi dengannya dan  meminta ijin darinya.

Promise is a promise, i love her enough untuk mengabulkan keinginannya. But there is another promise i made and i cherish this person enough for not broke the another promise. So i make compromise for this people.

Saya mengenal diri saya lebih baik lagi tahun ini.

I am a self center person, i know i love my self more than i love another people, But if my love for them is enough, saya akan berkompromi dengan mereka.

Welcome back.

Sudah lama tak berbincang, bercerita beberapa kisah di catatan personal ini yang sebenarnya not too personal.

Jadi, cerita pertama yang akan kubagikan adalah tentang kejadian beberapa hari yang lalu saat aku meet up dengan teman masa kecil. Pertama kali bertemu, aku cukup merasa awkward (sedikit), bingung bakalan ngomong apa saat pertama kali bertatap muka. Beruntungnya dia cerewet jadi semua kesan kaku langsung hilang.

selama 2 jam pertemuan, jujur itu masih kurang banyak. Selama 2 jam kita hanya bercerita mengenai kehidupan anak kuliahan. Padahal aku ingin tahu bagaimana kabar teman kecil kita yang lain di kompleks BTN 2 Bulukumba, dalam pembicaarn selama 2 jam itu she told me twice “Aku nggak berubah” yang pertama saat pertama kali saat bertemu it’s about my height and weight dan yang kedua about my personality. Cukup mengangetkan di mana aku tahu dalam 4 tahun terakhir aku berubah banyak. Banyak banget. Aku bukan lagi the moody and temperament girl yang dulu. I am more than my old personality.

Aku pindah rumah saat kelas 2 smp dan saat itu juga kami terakhir ngobrol dan ketemu (9 years apart). Pernyataannya yang mengenai personality ku cukup membuatku tertarik mengenai “bagian apa yang tidak berubah” dia bilang aku dari smp (terakhir kali kita bertemu saat aku kelas 2 smp) selalu berpikir dewasa. Aku nggak tanya dengan detail dewasa yang dimaksud seperti apa tapi yang aku tahu aku memang orang yang penuh dengan angan dan impian. Selalu mikirkan langkah apa selanjutnya dan selalu punya suatu tujuan untuk diperjuangkan. Dia juga bertanya mengenai why i choose psikologi,  i never talk about being piskolog (waktu kecil) ataupun ingin jadi penulis.

it’s nice to meet a old friend. dia juga bilang kalau cara ku berbicara seperti orang yang melakukan analisis terlebih dahulu sebelum mengeluarkan tanggapan. Cukup lucu mengingat aku adalah orang terpayah dengan ingatan mengenai teori. Tapi dia tidak salah, cukup susah memang ketika mencoba berbicara menggunakan standar pembicaraan umum, banyak banget yang harus dijelaskan ulang dengan menggunakan common sense. Tapi karena aku mendapatkan banyak cerita darinya jadi tidak masalah, masih masuk dalam kategori pertemuan yang sangat menyenangkan. 😀

Have a nice day.

.

Tagged , , , ,

The After Effect.

Skripsi telah selesai.. skripsi telah selesai… skripsi telah selesai #nyanyi.

well, setelah ngejalani proposal selama 1 semester, lalu berlanjut dengan skripsi 1 semester. Finally it’s done. Hwaaaaaaaaaa….. *senang buanget* Tapi the after effectnya belum kelar-kelar juga. Aku sekarang berjerawat yang super mengerikan akibat strees-menyelesaikan-skripsi. Ini beneran super menyeramkan. i looks like a monster (without make up) aku udah melakukan perawatan secepat mungkin kemarin dan semua uang yang aku saving bulan lalu habis karena melakukan perawat-yang-cukup-menguras-kantong dan beli beberapa cream malam untuk memusnakan jerawat.

Dengan keadaan wajah seperti ini, aku sangat takut pulang ke Makassar. Akan banyak orang-orang yang memberikan komentar mengenai wajahku yang sedang mengerikan saat ini. Oh my god. oh my god. What should i do. T^T

Tagged , ,

Bagaimana gue membela diri gue

Masih sulit bagi gue untuk melakukan ibadah secara seutuhnya. Ingin rasanya menjalankan ibadah sesempurna mungkin. Hanya saja entah mengapa gue masih belum dapat mendisiplinkan diri gue sendiri untuk berkomitmen dalam menjadi diri yang lebih sempurna di mata sang pencipta.

Gue masih merasa risih ketika beberapa orang memberikan nasehat ataupun bertindak “bossy” dalam cara gue menjalankan ibadah yang memang sejujurnya masih banyak kekurangan. Gue orang yang ekspresif jadi gue yakin gue pasti sudah menampakkan ekspresi sebete mungkin kalau ada orang yang membahas topik ini ke gue.

Ingin rasanya teriak pada mereka “mind your own business, buddy” tapi gue bukan tipe yang suka menjadi pusat perhatian di tempat yang rame. Dan tindakan ini jelas akan menarik perhatian orang banyak. Jadi gue menutup mulut gue untuk tidak teriak dan tentu saja dengan ekspresi yang sangat tidak nyaman.

Salah satu teman kampus gue pernah ngomong kalau gue merasa terintimidating oleh seseorang, secara tidak sadar gue malah bakalan menunjukkan body language atau mengeluarkan ucapan yang membuat orang tersebut merasa terintimidating sama gue.

Gue menyebut itu insting animalistik gue dalam mempertahankan/membela diri dari orang-orang yang membuat gue merasa terancam. Well, i’m  happy to have this. Kalau gue ingat-ingat lagi, waktu kejadian tersebut gue memang tidak teriak tapi gue mengeluarkan satu pernyataan pada orang tersebut yang membuatnya diam seketika.

Pada dasarnya gue orang yang punya ego yang tinggi, agak narsistik dan keras kepala. Jadi sulit untuk memberikan gue petuah dan sebaginya, gue akan tetap minta maaf kalau gue merasa bersalah which is itu agak jarang terjadi. Dan kalau pun gue mau berubah, perubahan itu harus atas dasar keinginan gue sendiri dan karena pengalaman sendiri atau pengalaman orang-orang pantas untuk didengarkan (Gue punya semacam kecendrungan untuk menghormati orang-orang yang jauh lebih tua, yang aku defenisikan sebagai orang-orang yang punya authority)

Orang-orang kayak gue akan lebih gampang terjebak dalam reverse psychology, karena kami terlalu ber ego tinggi untuk mengakui kalau kami tidak bisa melakukan suatu hal. Jadi satu-satu cara memberikan nasehat pada orang-orang seperti gue adalah dengan pintar-pintarnya menggunakan hal tersebut.

Tagged , , , , ,

Move on

Gue sering mendengar beberapa wanita  berkata kalau mereka tidak bisa hidup tanpa pacar mereka. logika gue menyatakan itu tidak masuk akal. Biasanya gue melontarkan pernyataan balik ke mereka, bukankah selama beberapa tahun sebelum lo pacaran, lo hidup dan normal-normal aja.

Beberapa orang tidak bisa menjawab pernyataan tersebut, beberapa lainnya mencoba menjelaskan tapi tidak dapat menemukan kalimat yang tepat untuk diberikan pada gue.

Gue akhirnya menemukan jawaban dari penyataan gue sendiri, jawaban ini gue temukan dari salah satu novel yang gue baca. Kita masih bisa hidup tanpa significant other tersebut, hanya saja akan berbeda rasanya dan terlalu besar beban perasaan emosional yang harus kita lalui.

Move on itu bisa. Sangat bisa dilakukan, hanya saja setiap individu itu berbeda. Gue membutuhkan waktu setengah tahun untuk benar-benar menerima kenyataan bahwa finally kita nggak bareng lagi dan beban perasaan tersebut akhirnya tidak mengganguku lagi. Beberapa orang malah akan terjebak dalam perasaan emosional mereka, beberapa lainnya membutuhkan waktu yang lebih dari setengah tahun.

Tagged , , ,

Tahun Baru dan Resolusi Baru

Tahun ini gue bertekad untuk tidak membuat target ataupun resolusi apapun, gue mau tahun ini menjalani semuanya seperti “air yang mengalir”. Life in the moment. Dan akhir tahun nanti gue akan merekap semua kejadian dan hal-hal yang sudah gue lewatkan. 🙂

Nggak ada alasan khusus kenapa gue melakukan ini, gue hanya terpikir untuk melakukan itu.

Tagged ,